Penyakit Rabies Pada Hewan

Penyakit Rabies Pada Hewan.Marilah kita pelajari mengenai penyakit pada hewan yang satu ini.Penyakit anjing gila (rabies) ialah suatu penyakit menular yang masuk dalam kategori akut, penyakit ini melakukan serangan pada susunan syaraf pusat korbannya, disebabkan oleh virus rabies jenis Rhabdho virus yang dapat menyerang semua hewan berdarah panas dan manusia.
Penyakit Rabies Pada Hewan

Pada penyakit ini sangat ditakuti dan dapat mengusik ketentraman hidup manusia, karena apabila sekali gejala klinis penyakit rabies timbul maka biasanya hampir selalu diakhiri dengan kematian. Rabies berasal dari bahasa latin “rabere” yang mempunyai arti marah atau dengan kata lain mempunyai sifat pemarah. Rabere juga kemungkinan berasal dari bahasa Sansekerta “rabhas” yang bermakna kekerasan.
Orang Yunani meng-adopsi kata “Lyssa” yang juga berarti “kegilaan”. Menurut catatan sejarah, Rabies telah dikenal 2300 SM sejak zaman Mesopotomia. Dokumen pada zaman tersebut menyatakan bahwa setiap orang yang memiliki anjin.g yang bersifat ” viscious”/ Ganas dan mengakibatkan gigitan pada orang lain akan diberikan denda. Pada abad ke 9 Inggris pernah mengalami masalah Rabies.
Di Inggris Rabies tidak hanya menular pada Anjing tetapi juga kucing dan Rubah (red Fox). Di Indonesia, pertama kali dilaporkan secara resmi oleh Esser di Jawa Barat, tahun 1884.
Kemu.dian oleh Penning pada anjing pada tahun 1889 dan oleh E.V. de Haan pada manusia (1894). Penyebaran Rabies di Indonesia bermula dari tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Sumatera Utara dan Sulawesi selatan sebelum perang Dunia ke-2 meletus.
Pemerintahan Hindia Belanda telah membuat peraturan terk.ait rabies sejak tahun 1926 dengan dikeluarkannya Hondsdolsheid Ordonansi Nomor 451 dan 452, yang juga diperkuat oleh Staatsblad 1928 Nomor 180. Selanjutnya selama Indonesia dikuasai oleh Jepang situasi daerah tertular Rabies tidak diketahui secara pasti.
Setelah thn 1945 dalam kurun waktu kurang dari 35 tahun (1945-1980) setelah merdeka Rabies menyebar hampir ke 12 provinsi lain, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur (1953), Sulawesi Utara (1956), Sumatera Selatan (1959), DI. Aceh (1970), Lampung (1969), Jambi dan Yogyakarta (1971), DKI Jaya dan Bengkulu (1972), Kalimantan Timur (1974), Riau (1975), dan Kalimantan Tengah (1978).
Pada era 1990-an, provinsi di Indonesia yang masih bebas rabies adalah Bali, NTB, NTT, Maluku, dan Papua. Peraturan terkait Rabies pun telah banyak dibuat setelah warisan dari pemerintahan kolonial dengan dikeluarkannya SK Bersama Tiga Menteri (Pertanian, kesehatan, dan Dalam Negeri) pada tahun 1978 dan Pedoman Khusus dari Menteri Pertanian pada tahun 1982. Sehubungan dengan hal tersebut diatas,pemerintah secara sistematis melakukan program pembebasan secara bertahap.
Program ini dimulai pada Pelita V (1989 – 1993) DI Pulau Jawa dan Kalimantan dan Kemudian pada Pelita VI (1994 – 1988) diperluas ke pulau tertular yaitu Pulau Sumatra dan Sulawesi.Dengan demikian program pemberantasan rabies ini menjadi program nasional. Situasi rabies yang telah dicapai dalam pelaksanaan program pembebasan rabies selama ini mencakup :
  • Dan sampai pada sekarang ada lima propinsi di negara Indonesia tetap bebas rabies yaitu Nusa Tenggara Barat, Maluku, Papua Dan Kalimantan Barat dan Sampai saat ini ada 18 propinsi yang belum bebas kasus rabies, pada tahun 1998 Propinsi Nusa Tenggara Timur telah menjadi tertular rabies sejak terjadinya outbreak di Pulau Flores Kabupaten Flores Timur.
  • Propinsi Jawa Timur, DI Yogyakarta dan Jawa Tengah telah berhasil dibebaskan dari kasus rabies dengan diterbitkan surat keputusan menteri Pertanian No.892/Kpts/TN.560/9/97 tanggal 9 September 1997. Namun untuk Pulau Jawa, Propinsi Jawa Barat Masih dinyatakan sebagai daerah tertular rabies karena masih dilaporkan adanya kasus rabies pada manusia dan hewan, namun demikian tampak terjadi juga penurunan kasus.
  • Jumlah rata – rata per tahun kasus gigitan pada manusia oleh hewan tersangka penular rabies selama tiga tahun terakhir (1997 - 1990) sebanyak 13880 kasus, 7509 diantaranya (54,2%) divaksinasi anti rabies (VAR) dan 170(1,2%) pemberian kombinasi Serum anti rabies (SAR). Ditemukan rata-rata per tahun 88 kasus rabies pada manusia selama tiga tahun (1997 – 1999), dan 2002 spesimen hewan yang diperiksa rata-rata pertahun, diantaranya 1111 spesimen (55,5%) menunjukkan positif rabies.
  • Situasi rabies pada tahun 1999,dilaporkan kasus gigitan hewan pada manusia 5930 kasus (50%) diberi VAR dan 56 kasus (0,5 %) diberi kombinasi VAR dan SAR. Sedangkan kasus rabies pada manusia sebanyak 131 kasus, dan dari 850 spesimen hewan yang diperiksa 767 (90,2%) menunjukkan positif rabies.
Penyakit Rabies saat ini masih dinyatakan bebas di beberapa pulau-pulau kecil Propinsi kawasan timur Indonesia &pada pulau–pulau di se.kitar Sumatera kecuali Nias yang dinyatakan terjangkit Rabies di tahun 2010. Program pembebasan rabies merupakan Kesepakatan Nasional dan merupakan kerjasama kegiatan 3 Departemen, yaitu Departemen Pertanian (Ditjen Peternakan), Departemen Dalam Negri (Ditjen PUOD) dan Departemen kesehatan (Ditjen PPM & PL) sejak awal Pelita V tahun 1989. (Oleh : drh. Neno WS.)
Referensi
Wikipedia.
Civas.net
Departemen Pertanian, D.J.P., Direktorat Kesehatan Hewan, 2007.
KIAT VETINDO Rabies Kesiagaan Darurat Veteriner Indonesia Penyakit Rabies. Departemen Pertanian, Indonesia. Majalah Poultry Indonesia, O., 2010.
Rabies, Luka Indonesia ya.ng Terus Kambuh. Poultry Indonesia.
Rabies, Luka Indonesia yang Terus Kambuh, Jakarta. Wilkinson, L., 2002. History. In: Jackson, A.C., Wunner, W.H. (Eds.), RABIES. Elsevier Sciece (USA), London, UK, pp. 1-21.

Demikianlah Artikel mengenai Penyakit Rabies Pada Hewan. Simak juga artikel kami yang lain dengan judul
 Virus Toxoplasma Pada Kucing Persia Anggora.

0 Comment "Penyakit Rabies Pada Hewan"